Mengenai Saya
- Biduk Sastra
- Baturaja, Sumatera Selatan, Indonesia
- SEBIDUK BERDUA (yang lain boleh Ikut) Sekapur Sirih Assalamualaikum Salam sejahtera, Aku dan istriku menggemari sastra. Aku bernama Adnan Wiliansyah, lahir di Palembang, 20 Maret 1975. Sementara, istriku bernama Yesi Febrianti, lahir di Kepahiyang Bengkulu, 13 Februari 1982. Bologer ini dipublikasikan diharap menjadi sebuah wadah belajar bagi kami.
25 Maret 2009
02 April 2008
Sastra Bahari


SYAIR ZAMAN LANUN
Tengok negeri tempo bahari
kilau asri warisan bumi
Tabik poyang mahabestari
ajarkan abadi menghuni negeri
Singgah puan singgah lah tuan
fakta kah ini pilihan zaman
Siang dilanun ditelan malam
gerang apa nak jadi sekarang
Perih mata sakit telinga
Tertusuk jantung batang sembilu
Bimbang badan kaki bergerak
Kiri dan kanan sudah lah rusak
Duhai raga aduhai badan
Maksiat dipuja diajarkan
centang perenang pimpinan dimkan
Apakah pula ini ceritera diangkan
Baturaja Mei 2009
Poejangga Baroe Reformasi
CERPEN
NINO
Karya Adnan Wliansah
Pagi ini cuaca sedikit mendung, beberapa bagian langit di atas sana hitam menggelayuti atas kelapa, yang biasanya langit biru cemerlang, apalagi jika matahari baru mengerdipkan matanya menyingkap tabir subuh seusai melalui malam. Agak terburu nanda melangkah meninggalkan sarapan nasi goreng buatan emak pagi ini. Ia takut kalah cepat dengan hujan yang akan tumpah. Emak hanya menggelengkan kepala dan tersenyum menyaksikan di atas meja makan nasi goreng belum disentuh sedikitpun. Ketika ia hendak menyuruh Nanda menyantap sarapannya, anak itu telah tak ditemuinya. Kemudian emak bergegas ke pekarangan dan tak jua ada seorang Nanda di sana.
”Ah, anak itu sarapannya pun tak ia sentuh. Malas nian dia makan” gerutu emak kecewa.
Angkot yang ditumpangi Nanda penuh berjubel anak sekolahan. Di dalam angkot yang sesak Nanda hanya diam, menjadi pendengar setia obrolan di dalam angkot. Di bagian pojok tempat duduk angkot, di antara anak sekolahan yang menjubeli angkot dua orang bapak-bapak berbincang asyik. Pembicaraan mereka tentang El Nino. Seorang bapak yang berbadan kurus, lagaknya orang pintar, nampak benci sekali pada El Nino.
”Ini semua akibat El Nino! Lihat, semua jadi sangat kacau!”
Tak kalah bapak berkepala plontos menanggapi,”Iya! Kali ini lebih parah saja akibat yang kita rasakan! Nampaknya El Nino sudah benar-benar jadi ancaman serius!”
”Jelas! Ini semua gara-gara El Nino!”
Cuma itu saja pembicaraan di dalam angkot yang sempat tertangkap gendang-gendang telinga Nanda. Tanpa terasa, ia sudah sampai ke tujuan. Sepatu Nanda menjejak aspal serentak hujan berderai. Nanda berlari kecil berlindung di sebuah gedung megah. Dari arah depan gedung tersebut berjajar anak tangga seakan melambangkan betapa sulit jika ingin memasuki gedung tersebut. Gedung megah, namun mengapa sepi di batin Nanda saat berteduh di dalamnya. Nanda mengamati lekat gedung tempat ia berteduh. ”Sungguh indah konstruksi bangunan ini, pasti dibangun dengan biaya yang luar biasa”, bergumam Nanda di dalam hati. Diperhatikannya tangga satu persatu berundak-undak hinggga ke teras. Di atas ada ruangan besar setelah teras yang posisinya beberapa meter menjulang tak menyentuh tanah. Di halaman depan terpampang plang bertuliskan GEDUNG DPR PROVINSI TEPIAN PANTAI. Nanda merasa kesepian di gedung tempat ia berteduh, untung tak lama kemudian hujan mereda. Kemudian, setengah berlari ia menyebrang jalan meninggalkan gedung megah itu menuju suatu lokasi lain yang berjarak beberapa ratus meter. Lokasi yang dipenuhi kelompok gedung terpencar berdekatan jaraknya. Di depan gedung yang dituju Nanda sebuah tulisan besar terbaca jelas dari arah seberang jalan UNIVERSITAS RAKYAT. Di dalam gedung-gedung itu terlihat wajah-wajah ceria anak-anak muda yang bersemangat. Nanda membarur dalam kelompoknya. Mereka membicarakantopik-topik hangat dengan idialisnya. Muncul dari salah satu gerombolan itu seorang gadis memanggil Nanda, ”Da! Ke sisni sebentar”.
Nanda pun mendekati sang gadis setelah sebelumnya berbasa-basi dengan teman tempat ia ngobrol semula, ”Iya, Rin. Ada apa, sih?”
”Kamu sudah dengar kabar?”
Nanda jadi bingung dahinya mengerenyit, ”Belum. Apa, tuh?”
”Tentang Nino. Gak baca koran, ya?Dia ngamuk lagi. Orang satu pasar dibuatnya kalang kabut”, semangat sekali Rina bercerita.
”Lalu?”
”Kios gelaran seni kita pun hangus jadi sasaran!”
”Lalu?”
”Kamu seperti orang begok aja! Ini sudah parah! Masak kamu tenang-tenang saja. Kamu gak bisa rasakan apa orang orang itu pasti sangat kebingungan dan marah! Ini semua akibat Nino!”
”Jadi bagaimana? Kamu juga ingin aku ikut menyalahkan Nino seperti yang lain. Apakah itu membuat semuanya jadi lebih baik? Atau bagaimana?”
Rina semakin memburu tidak puas dengan tanggapan Nanda yang seolah meremehkan permasalahan, ”Kamu gak punya perasaan. Mungkin kalau aku atau kelurgamu juga terkena musibah akibat keparat itu, kamu juga tidak akan perduli! Kamu sama jahatnya!” Setelah mencapai puncak berangnya, Rina membalik badan merajuk, dan meninggalkan Nanda dengan wajah cemberut. Nanda terbengong, tak menyangkaRina semarah itu. Padahal bagi Nanda pembicaraan tadi hanya sebuah tanda tanya yang belum ada kepastiannya.
Seusai perkuliahan Nanda menunggu Rina. Ia merasa bersalah telah membuat Rina merajuk seperti anak kecil. Di sebuah ruang tepat Rina mendengar kuliah dosennya Nanda sabar menungu hingga Rina ke luar. Namun, sia-sia Rina nampaknya benar-benar marah. Ia tak menanggapi kehadiran Nanda. Tak acuh Rina melenggang di hadapan Nanda tanpa memalingkan wajah sedikitpun ke arah Nanda, padahal Nanda yakin Rina paham ia menunggunya. Sepanjang perjalanan peristiwa merajuknya Rina memenuhi ruang pikir Nanda. Semua bercampur baur dengan segala peristiwa kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini yang membuat semua orang seperti kebakaran jenggot, semua menyalakan api kebencian. Ada apa orag-orang ini? Mengapa mereka sedemikian bencinya dengan Nino? Sepertinya segala kesialan adalah dosa Nino; tanggung jawab Nino; ada kebakaran hutan Nino disalahkan; orang mati Nino disalahkan; orang kelaparan Nino disalahkan; orang demam Nino jadi kambing hitam; bahkan anak pejabat tidak jadi menikah Nino juga disalahkan. Apa-apaan ini? Mereka mencari hiburan dengan mempersalahkan Nino. Padahal belum tentu semua itu akibat Nino. Salat kah, beribadah kah mereka?. Sehingga sedemikian takutnya? Terbaca kah di balik yang tak nampak? Nanda membatin panjang.
Angkot yang ditumpangi Nanda dihentikan seorang penumpang. Entah mengapa Nanda jadi ingin ikut turun. Ia tidak ingin segera pulang ke rumah. Langkahnya tak tentu arah. Ia tidak memperhatikan di jalan apa ia kini dan di mana ia turun tadi. Ia hanya ingin berjalan sekedar melepas segala beban yang membuatnya gundah. Tanpa sengaja tertangkap pengamatannya suasana sepi, toko-toko pinggir jalan banyak yang tutup. ”Jangan-jangan gara-gara El Nino”, Nanda membatin sambil pandangan kosongnya memperhatikan sekelilingnya. Mengapa tiba-tiba kekosongan terisi oleh rasa menarik untuk diamati. Di pinggiran jalan terlihat secara mencolok orang-orang berbaju kumal, entah pengemis atau orang gila atau orang stres saja, kali ini rasanya jumlahnya sedikit lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.
”Jangan-jangan gara-gara El Nino juga. Ah, kalau begitu benar-benar parah. Brarti terkutuk sekali si Nino itu. Sedemikian parahkah dampak El Nino?” kembali Nanda bergumam dalam hati.
Belum habis juga satu fenomena kehadiran orang-orang berbaju kumal tertangkap kembali di mata Nanda salah satu diantara mereka. Seorang gila mengoceh, memaki-maki, entah siapa yang dimakinya. Nanda menyingkir, menjauh dari orang gila yang memaki-maki tersebut, ada rasa takut yang menyerang tiba-tiba, sampai-sampai merinding bulu kuduk Nanda.
Matahari panas menyengat karena tak tahan Nanda berteduh di bawah pohon di taman kota. Sialnya tak jauh dari tempatnya mendudukkan pantatnya, seorang berewokan tertidur pulas, sosok hitam-tinggi-besar, tertidur berbantl tangan. Suara ngorok sesekali terdengar begitu keras dari mulut yang pulas. Namun Nanda benar-benar kecapaian, meski ada sedikit rasa takut namun harus diredamnya. Angin sepoy-sepoy sejuklah yang lebih kuat merayu mata Nanda. Pepohonan rindang memberi kenyamanan menambah rasa kantuk yang sedari tadi merayu.
Baru saja mata hendak tertutup, suara menguap yang begitu keras terrasa berisik mengganggu telinga Nanda yang sudah seiya dengan mata sayu, memaksa mata Nanda kembali terbelalak mencari sumber suara apa tadi. Namun, suara itu tak diketahui datangnya. Secara mengejutkan suara itu datang lagi dan mata Nanda menangkap dari bibir dower orang seram yang tadi tertidur pulas. Setelah mengelurkan suara seram, sepasang mata belok pemilik suara membentur bola mata Nanda yang sayu karena kantuk. Ratut wajah yang mengerikan menyungging senyum yang sama sekali bukan pemandangan yang indah. Nanda membalas senyum itu. Merasa mendapat tanggapan pemilik sosok seram, entah untuk alasan apa tertawa memekak telinga, ”Ha..ha..ha..”.
Nanda jadi tercekat kuldinya. Tenggorokan terasa kesat menelan ludah, dalam hati ia membatin,”jangan-jangan orang ini gila”. Orang itu terus memandangi Nanda. Nanda berusaha tak menimbulkan kesan apapun. Tak diharapkan Nanda, orang tersebut malah beranjak menuju ke arah Nanda. Ketika orang itu semakin mendekat, deengan mempersetankan kantuknya, Nnda berniat meninggalkan tempat ini menjauh dari mahluk seram yang mencoba mendekatinya. Dengan gerakan-gerakan aneh sebagai alasan-alasan yang dicari cari perlahan nanda membalik tubuh siap melangkah lain arah. Belum lagi stu langkah penuh ia tapakkan terdengar suara memanggil,”Dik!” Membuat langkah Nanda terhenti.
”Abang panggil saya?” Orang yang di tanya mengangguk tanda jawaban.
”Ada apa, Bang?”
Sesosok seram diam sejenak, seolah menyelidik pikiran Nanda.
”Kamu takut sama saya? Tampang saya seram, ya? Atau kamu mengira saya orang gila?” Ditanya dengan sura bas yang begitu berat Nanda jadi ciut.
”Ah, tidak Bang. Anu, saya cuma....baru ingat... rasanya ada sesuatu yang tertinggal di rumah...jadi saya harus bergegas pulang kembali ke rumah.” Alasan mengada-ada Nanda hanya dibalas dengan senyum yang sama sekali tak indah.
”Saya lama di taman ini tanpa teman bicara. Mau kamu temani saya ngobrol-ngobrol?” Pertanyaan berisi tawaran yang tak terduga oleh Nanda. Dengan hati berat kepala nanda dianggukkannya tanda jawaban.
”Nama kamu siapa?” si wajah seram membuka pembicaran.
”Saya Nanda, Bang.”
”Saya Nino panjangnya El Nino.” Mendengar nama tersebut jantung Nanda bertalu laksana pasukan drum bend. ”jangan panggil aku abang, kupikir kurang akrab, kita jadi berbeda kasta, aku jadi lebih tua dan harus dihormati jadinya. Aku tidak begitu nikmat terlalu dihormati, he..he..he...”
Semakin gugup saja Nanda, namun tak ada dalil hanya sekenanya saja menjawab,”Tidak, Bang. Eh, Nino. E...namamu mirip gejala alam yang mengerikan. E...kamu pernah dengar kan?”
”Tidak aku tidak pernah dengar berita. Berita-berita sekarang hanya membuat kepala pusing. Semua tentang kejahatan dan kejelekan, buat hati panas saja.”
”E...aku juga, Bang. Eh...Nino, istilah itu sebenarnya kebetulan saja kubaca dari koran”.
”Ah! Apalagi koran beritanya tentang seremoni semua. Pejabat anu, pejabat itu. Koran Cuma jadi tempat orang orang jual tampang! Cari muka! Promosi! Puih, bacaan macam apa itu. Alih-alih mencerdaskan malah membodohi”.
Nanda jadi semakin grogi tapi ada saja dalil Nanda menutupinya, ”Iya, Bang, eh...Nino sekarang ini semua orang sudah saling benci membenci nampaknya.”
”Ucapanmu benar-benar BENAR. Banyak orang yang benci, muak, jijik, dan dendam padaku. Mereka semua menyalahkanku atas segala kejadian. Seolah setiap peristiwa buruk akulah provokatornya. Sampai-sampai keluargaku mengusirku.
”O...jadi kamu El Nino yang terkenal itu?” Tanpa sadar Nanda merasa pertanyaanya sudah terjawab.
”Kamu kenal juga siapa aku dan tahu mengapa sebabnya aku dibenci?”
Nanda hanya diam dan selintas ia teringat akan Rina. Kemudian suara bas membuayarkan lintasan ingatan Nanda.
”Nanda, ketika aku lahir pada malam Jumat Kliwon, orang pintar di desaku mengatakan aku ini anak sial, pembawa hawa petaka. Aku pertanda buruk bagi suatu negeri di mana aku dilahirkan begitulah ramalnya. Pada awalnya orang-orang tidak percaya. Namun setelah tiga hari kelahiranku ibuku meninggal tanpa sebab yang jelas. Tak hanya itu beruntun seminggu kemudian setelah peristiwa wafat ibu, desa kami mengalami gagal panen. Hama aneh menyerang sawah dan perkebunan. Semenjak dua peristiwa itu, mulai orang-orang curiga. Mereka teringat pada ramalan orang pintar saat kelahiranku. Aneh makin curiga itu menguat semakin menjadi pula bencana datang beruntun saja. Orang semakin percaya kalau aku lah sang pembawa petaka. Lalu, aku diusir dari kampung tanah kelahiranku, dari kerabat keluargaku.”
Nino terus bercerita mengalir layaknya mata air pegunungan,”Lalu aku sampai di kota ini. Lambat laun cerita tentang diriku tersebar juga di kota ini, itu akibat cerita yang di bawa orang desaku yang mengetahui keberadaanku di sini. Aneh semakin kuat orang mempercayai kebenaran tentang aku sang pembawa sial seolah semakin kuat juga bencana silih berganti bersusulan terjadi. Gempa kemarin akulah dituduh penyebabnya, kebakaran, wabah penyakit, kelaparan, dan banyak hal buruk lainnya semua dilemparkan kepadaku sebagai pembawa petaka. Aku dimaki, aku ditakuti, orang-orang benci dan muak padaku!”
Tak jauh dari tempat kami berbncang, sepasang mata mengintip di balik rerimbun taman. Mengendap, berjingkat perlahan sesosok bayang menuju ke arah kami tanpa kami sadari. Seketika sebatang balok kayu menghantam tubuh Nino, ”Buk!” terdengar keras. Nino terhuyung. Si pemukul seperti kesurupan mengayunkan balok kayu berulangkali dengan sasaran sekujur tubuh Nino. Beberapa kali Nino berusaha mengelak. Pada hantaman yang kesekian kalinya Nino berhasil mengelak, balok tipis meleset dari sasaran tubuh Nino namun, malang balok kayu itu malah deras menuju ketubuh Nanda. Tanpa dapat mengelak balok itu keras membentur tubuh Nanda ”Buk!” Nanda seketika terjatuh. Pandangan Nanda menjadi kabur kemudian semua menjadi gelap.
Ketika sadar Nanda telah berada di rumahnya. Seluruh badanya tersa sakit, Nanda dinasihati dokter untuk istirahat selama tiga hari. Saat sudah lebih merasa baik, Nanda kembali dapat kuliah. Ada perkembangan baru di kampus. Anak-anak kampus demikian gencar berbincang tentang suatu hal yang hangat mengenai perubahan. Semua berteriak lantang mengingini tatanan baru sebuah pemerintahan. Nanda tak habis pikir begitu cepat loncatan peristiwa. Bagaimana dengan Nino? Dari kejauhan Rina tersenyum bersahabat menghampiri Nanda.
”Sudah sehat?” Nanda mengangguk sembari membalas senyum Rina.
”Yah, lumayan”.
”kamu sudah dengar kabar baru?” lanjut Rina.
”Belum. Apa lagi Rin?”
”Itu teman-teman kita mereka....bla...bla...bla ..” nanda sudah tak begitu jelas lagi mendengar ocehan Rina. Nanda terpikir bagaimana kabar Nino.
”El Nino bagaimana, Rin?”
”Oh, ya hari ini terakhir sidang. Kasus terakhirnya membunuh orang di taman.”
”Hah? Hari ini sidangnya?”
”Dia pasti dihukum mati!”
Tak sabar hati Nanda terburu menuju pengadilan. Terlihat adegan menyedihkan Nino yang memelas bersumpah-sumpah sampai menitik airmatanya meyakinkan hakim ia tidak bersalah. Itulah pembelaan Nino yang kulihat begitu mengharukan . Lalu dari kejauhan terdengar suara teriakan yel-yel penuh semangat hingga mengganggu jalan pensidangan. Suara Riuh dari demonstran yang menyusuri jalan kota menuntut perubahan. Suara Nino tenggelam. Media massa tak memuat berita Nino sedikit pun. Berita berita yang santer sekarang adalah berita-berita tentang angin perubahan yang berhembus kencang. Pulang ke rumah, emak kaget mendapati Nanda memegangi dada dan terhuyung pingsan sambil mendekap emak.
####Nan(Simpang Pantai 20 April)
